Blur


Blur

by Authumnder

Gu9udan’s Mimi & Monsta X’s Minhyuk | Slice of Life, Fluff

+++

Semenjak divisinya kedatangan pegawai baru, hidup Mimi rasanya jadi serba tidak nyaman. Bukan, bukan karena orang baru itu suka bersikap jahat, bukan pula karena ia orang canggung yang tidak mau diajak berteman. Malahan, kalau Mimi diperbolehkan memberi komentar, ia akan menyumbang pujian untuk sifat supel laki-laki itu—habis memang benar begitu, Lee Minhyuk itu superramah dan menyenangkan. Di minggu keduanya saja, dua teman sedivisi Mimi sudah curhat tentang masalah pribadi mereka ke Minhyuk. Keren nggak, tuh?

Terus kenapa Mimi justru merasa tidak senang? Minhyuk toh tidak memberi perlakuan berbeda untuknya, laki-laki itu bersikap baik padanya, sama baiknya dengan sikap yang ditunjukkannya untuk semua orang di bangunan kantor ini. Menurut Mimi, justru di situlah letak masalahnya.

Seperti pagi ini, sewaktu Mimi berkunjung ke dapur kantor untuk membuat kopi instan (iya, sekarang memang masih pagi, tapi stok kafeinnya tetap harus diisi), kebetulan sekali pegawai baru itu juga ada di sana—entah membuat apa. Awalnya Mimi berencana mundur teratur begitu menyadari keberadaan Minhyuk, mumpung laki-laki itu masih sibuk mengaduk-ngaduk isi cangkirnya, namun ups, terlambat.

“Halo, Mi-mi-mi!” suara riang Minhyuk telanjur menyapa telinganya. Minhyuk bahkan menyenandungkan nama Mimi dengan nada lagu Mi Mi Mi milik Serebro. “Kopi?”

Hanya untuk bersikap sopan, Mimi mempertahankan senyumnya ketika menggeleng. “Terima kasih, tapi aku bisa bikin sendiri.” Ujarnya, maju empat langkah mendekati pantri tempat bubuk kopinya disimpan. Ia menyibukkan diri selama beberapa saat, pura-pura mengacuhkan orang lain yang saat itu ada dalam ruangan yang sama dengannya. Maksudnya sih agar laki-laki itu sadar diri lalu minggat tanpa berkata-kata, tapi agaknya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya, karena setelah minumannya selesai pun, Minhyuk belum juga angkat kaki.

Lebih parah lagi, sekarang laki-laki itu sedang menatapnya dengan wajah berseri-seri. Ugh! Betapa Mimi benci ketidakjelasan ini.

Jadi, untuk menyingkirkan kecanggungan yang rasanya makin menebal saja, Mimi bertanya, “Eh, kenapa kamu belum pergi juga?” ia tahu ucapannya mungkin kedengaran tidak sopan—jahat bahkan, tapi memangnya pilihan apa yang ia punya?

“Menunggu kamu,” kata Minhyuk, masih riang. “Sudah selesai, ‘kan? Mau kubawakan sekalian cangkirnya?”

Sudah paham belum alasan Mimi merasa tidak nyaman? Belum juga? Ugh, Mimi benci kalau harus menjelaskannya seorang diri—nanti malah dikira terlalu percaya diri atau sombong—tapi ya sudah, berhubung kamu-kamu belum mengerti. Jadi begini… setelah menghabiskan tiga minggu bekerja dalam satu divisi dengan Minhyuk, Mimi sedikit-banyak menangkap kebiasaan laki-laki itu. Iya, Lee Minhyuk memang baik, ganteng, dan ramah, tapi setelah melakukan observasi penuh-waktu, barulah Mimi menyadari beberapa hal aneh—yang kalau dibuat daftar bakal begini jadinya:

  1. Minhyuk tidak membuat julukan aneh-aneh untuk teman-teman sekantornya, kecuali Mimi (ingat tidak bagaimana caranya memanggil Mimi?)—atau mungkin ini karena nama koleganya yang lain tidak bisa dinyanyikan?
  2. Minhyuk menyapa semua orang saat tiba dengan “selamat pagi”. Pengecualian untuk Mimi, laki-laki itu selalu menyapanya dengan “selamat pagi, Mimi Manis”.
  3. Minhyuk belum pernah menolong membenarkan mesin fotokopi yang macet untuk rekan-rekan yang lain, lagi-lagi kecuali Mimi. Atau mungkin hal ini terjadi karena kebetulan saja Mimi merusak mesinnya saat Minhyuk akan memfotokopi?
  4. Mimi pernah melihat temannya Jina membuat kopi di saat yang sama ketika Minhyuk ada di dapur, tapi laki-laki itu tidak menungguinya sama sekali, juga tidak menawarkan akan membawakan. (Yang ini merupakan fakta baru.)

“Mimi! Jangan melamun, dong!”

Ketika Mimi tersadar, tangan Minhyuk sudah melambai-lambai di depan matanya. Memalukan sekali! Buru-buru ia mengangguk, lalu menggeleng. “Tidak melamun, kok,” katanya membela diri.

“Huh, dasar pembohong.” Minhyuk mencibir, dengan bercanda sepertinya karena kedua mata laki-laki itu masih berbinar. Ia kemudian mengangkat cangkir Mimi bahkan sebelum pemilik aslinya sempat. “Kubawakan saja, ya? Takutnya nanti kamu melamun lagi.”

Diam-diam Mimi merasa keki, tapi memangnya apa yang bisa ia lakukan selain mengangguk setuju?

Tiba di mejanya sendiri, Mimi langsung mengempaskan bokongnya di atas kursi tanpa mengindahkan Minhyuk sama sekali. Ia juga tidak mengucapkan terima kasih saat rekan kerjanya itu mengangsurkan kopinya. Ia merasa marah, tapi tidak tahu mengapa.

Di jam makan siang, Mimi tidak juga meninggalkan kubikelnya. Ia tetap setia menghadap laptop silvernya yang menyala terang—kecerahannya sengaja dimaksimalkan supaya ia tidak mengantuk—meski sudah diajak keluar oleh tiga temannya (salah satunya Minhyuk, yang menjengitkan sebelah alis dengan bingung waktu Mimi menjawab tawarannya dengan, “Nggak, makasih.” yang kedengaran judes). Barulah ia mengangkat kepala ketika Hana, teman yang kubikelnya berada persis di sampingnya, menggeser kursinya mendekat.

“Kenapa kok tidak makan siang dengan yang lain?” tanya gadis berambut merah itu ingin tahu. “Biasanya ‘kan kamu ikut keluar dengan Minhyuk dan yang lain.”

Mimi memberi senyuman sekilas sambil meregangkan punggung yang kaku. “Nggak ingin saja. Kamu sendiri ngapain masih di sini?” katanya.

Hana menyengir, “Deadline. Aku malas-malasan kemarin, jadi hari ini harus kebut-kebutan.” Jeda sejenak sementara ia membaca satu per satu post-it yang menempel di kaca pembatas kubikel Mimi. “Omong-omong, kalian sedang bertengkar, ya?”

“Siapa bertengkar?”

“Kamu dan Minhyuk, dong, siapa lagi coba? Kuperhatikan dari kemarin-kemarin, kamu kayaknya berusaha menjauh begitu, deh. Ada masalah apa? Cerita, dong!”

Lima detik penuh dihabiskan Mimi dengan melongo. “Hah? Apaan? Nggak ada yang bertengkar, kok. Lagipula, aku dan dia ‘kan tidak sedekat itu.” Ia menyergah dengan bingung.

Teman sekantornya itu justru mendengus keras-keras, lalu tertawa. “Kamu itu terlalu polos atau memang tolol, sih? Kalau kalian tidak sedekat itu, terus apa makna di balik panggilan spesial dia buat kamu? Buat apa dia repot-repot turun ke lantai satu cuma untuk mengambilkan kamu isi stapler? Buat apa dia menawarkan diri untuk meng-copy tugas kamu atau mengirimkannya ke pusat redaksi?”

Wah, jadi dugaanku ada benarnya juga, Mimi refleks berpikir, tapi masih saja menyanggah. “Itu ‘kan karena dia aslinya memang friendly. Kebetulan saja mejaku ada di sebelah mejanya, jadi mungkin dia merasa harus berusaha lebih keras agar kami punya hubungan pertemanan yang baik.”

Tapi Hana belum juga menyerah. Gadis itu mengibaskan rambutnya ke belakang, memberi senyuman genit yang menyebalkan. “Enggak, ah,” ia merespons. “Buktinya meja Jina juga ada di samping Minhyuk, tapi nggak pernah sekali pun tuh, Minhyuk berusaha membawakan cangkir kopinya. Seperti yang dia lakukan buat kamu tadi pagi.”

Sangkalan-sangkalan Mimi habis sudah. Perempuan itu menunduk dengan bibir cemberut, lalu berbisik dengan sangat pelan ke telinga Hana. “Jadi instingku benar, ya? Kupikir aku terlalu percaya diri.”

“Terus bagaimana? Kamu suka dia juga, tidak?”

Mimi meringis, “Suka, sih. Siapa juga yang tidak suka sama cowok macam begitu?”

Mulut Hana sudah terbuka sedikit, hendak melempar jawaban lagi, tapi batal lantaran kantor kembali ramai dipenuhi pegawai yang habis mengisi perut—termasuk Minhyuk. Laki-laki itu mengobrol sebentar dengan para pegawai lain, lalu berjalan kembali ke mejanya.

Mimi langsung menundukkan kepala, pura-pura sibuk mengobrol dengan Hana, yang hanya tertawa dan mengikuti.

Tiba-tiba saja ada bungkusan putih di depan mata Mimi. Saat gadis itu mendongak, terlihatlah Minhyuk lengkap dengan senyuman riangnya yang khas. Ini, mau tidak mau, membuat jantung Mimi bertingkah.

“Nih, makan siang buat kamu. Jangan biasakan melewatkan makan, oke?” kata laki-laki itu dengan nada galak yang palsu. Saat Mimi tidak kunjung menerimanya, ia langsung saja menarik tangan gadis itu dan menautkan pegangan kantongnya ke jemari Mimi.

“Minhyuk, makan siang buatku mana?” Hana menggoda, menangkupkan kedua tangan seakan-akan sedang meminta.

Minhyuk tersenyum dengan sebelah tangan menggaruk tengkuk, “Wah, Hana, makan siangmu ketinggalan di tokonya. Maaf, ya.”

Beruntung saat Minhyuk kembali menoleh ke arahnya, Mimi sudah lepas dari kekagetannya. Sekarang, ia juga ikut-ikutan melengkungkan sudut bibirnya ke atas dengan riang—tidak ada lagi ketidaknyamanan, selamat tinggal ketidakjelasan!

Whoa, Mimi! Harga makanannya tidak sampai seratus ribu, lho, baik sekali kamu memberi senyuman sejuta dolarmu untukku hanya karena dibelikan burger!” seru Minhyuk tiba-tiba.

“Diam, deh!”

Kalau saja Mimi tidak begitu sibuk tertawa dan berusaha menendang Minhyuk, mungkin ia akan melihat ekspresi Hana yang kalau diartikan, pasti bunyinya semacam ini:

Kayak begitu yang kamu katakan tidak dekat, heh?!”

fin.

Finished: 23:47 | July 24, 2016.

HUHUHU maaf aku sedang butuh asupan fluff dan karena aku alay dan kekanakan dan baru saja berpikir mengenai kemungkinan Minhyuk dipairing dengan Mimi maka jadilah ini :”). Sangat panjang untuk ukuran sesuatu yang sangat pointless ;_;.

2 thoughts on “Blur

  1. sebentar. ya allah selera humor aku kenapa sih, masa pas bagian minhyuk bilang kalo makan siangnya hana ketinggalan di toko aku ngakak bahagia banget ya allah mey help me :” aslik yha fikaa :”

    anw kenapa ini sangat-sangat-sangat fluffy-fluffy sekali sih mey. aku pun sedang butuh asupan fluff kayak gini. dan no, siapa yang bilang pointless huhu. ringan banget, fluff banget dan manisnya nggak berlebihan. pas aja gitu aku sukaaa. (paling suka bagian yang mimi curhat ke hana, terus hana-nya ngejelasin sampe gemes gitu wkwk. baryaw han, kadang yang nggak peka emang selalu bikin gemash) (sendirinya suka nggak peka. lah curhat maap). ih favorite lah pokoknyaaaa. mey banyakin yang kayak gini yaaah, bikos tbh aku kalo butuh asupan cerita fluff pasti larinya ke sini hehehe😀 keep writing!

    Like

    1. hamdalah ya kak fik kalo bagian itu berhasil bikin ketawa :’) habis aku pengen ngasih karakter konyol gitu buat minhyuknya ;_;
      yess aku kadang juga kayak ngidam gitu lagi bosen terus berkeinginan baca sesuatu yang fluff abis pokoknya 100% fluff ga ada masalah isinya cuman romantis-romantisan doang xD
      hati-hati loh kak fik, siapa tahu kak fika punya penggemar diam-diam tapi tidak menyadari?? wkwkwk.
      woaah makasih banyak ya kak fika sudah mampir dan baca ini >______<

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s