Do or Die


PicMonkey Image

Do or Die

by Authumnder

CLC’s Yeeun & Monsta X’s Kihyun | Slice of Life, Comedy

+++

Ini tidak nyata, tidak sama sekali. Mungkin sebentar lagi aku akan terbangun, menyadari kalau semua ini hanya mimpi buruk. Mungkin aku hanya terlalu lelah dan stres sampai bermimpi seliar ini. Mungkin aku hanya membayangkannya. Yap, benar, teruslah berpikir positif, Yeeun.

Tapi nggak, tuh. Saat aku membuka mata, aku masih berada di tengah-tengah kamar tidurku, dikelilingi oleh empat temanku—yang rencananya akan menginap—yang saat ini sedang memandangiku penuh harap.

Ini bukan mimpi, dan ya, aku masih memegangi ponselku dengan tangan berkeringat sementara jantungku hendak copot dari soketnya.

“Yeeun, baik-baik saja, ‘kan?” ketua geng kami, Kak Seunghee, bertanya dengan kening berkerut. Dia bahkan menempelkan bagian belakang tangannya ke dahiku. “Guys, mungkin Yeeun benar, mungkin lebih baik kalau kita mengganti tantangannya—”

Temanku yang lain, Yujin, memotong dengan sewot. “Tidak bisa begitu, dong!  Lupa ya kalau aku barusan mengirim voice note berisi pernyataan cinta ke Wonwoo? Tidak ada satu pun dari kalian yang kasihan padaku waktu aku memohon-mohon minta diganti!”

“Yujin punya poin, sih.” Sorn mencetus, sementara yang lain mengangguk.

Ah, sialan, harapanku kempis lagi.

“Yeeun, kayaknya lebih baik kamu lakukan saja, deh,” Elkie berujar dengan senyuman mengasihani—meskipun dia juga yang tadi tertawa heboh waktu Sorn memberiku dare. “Sudah jam sebelas, lho.”

Aku benci mengakuinya, tapi teman-temanku yang menyebalkan ini punya poin yang masuk akal. Nggak mungkinlah aku menghindari dare yang diberikan dengan cuma-cuma untukku setelah yang lain berjuang mengatasi rasa malu mereka.

“Oke, oke,” aku menyahut akhirnya sambil menyambar telepon genggamku di atas bantal. “Tapi aku akan mengirim pesan dulu, bertanya apa Kak Kihyun sibuk atau tidak sebelum meneleponnya. Kalau dia sibuk, kalian tidak punya pilihan kecuali mengganti tantangannya. Deal?

Deal!”

Um, tebakanmu benar, kami memang sedang memainkan Jujur atau Ditantang—Truth or Dare—dan yap, benar lagi, kali ini adalah giliranku ditantang. Harusnya aku memilih jujur saja kalau macam begini tantangannya, harusnya aku sudah curiga kalau topiknya pasti bakal lari ke sini juga, karena tadi toh Seunghee memberiku pertanyaan, “Pilih Vernon atau Kak Kihyun?” untuk truth-ku. Mungkin aku seharusnya memilih Vernon saja, si bule dari kelas sebelah itu, karena paling tidak level kecanggungannya tidak akan setinggi sekarang kalau aku ditantang meneleponnya. Tapi tentu saja, karena aku kelewat tolol dan goblok, aku menjawab, “Kak Kihyun, dong!” dengan mantap dan hei, lihat ke mana jawaban itu membawaku sekarang.

Omong-omong, Kak Kihyun itu adalah alumni sekolahku, sudah lulus sewaktu aku baru masuk. Lantas dari mana aku kenal dia? Yah, Tuhan memang punya segala cara untuk mempertemukan seseorang dengan jodohnya—bukannya aku yakin kalau Kak Kihyun adalah jodohku, sih, mengingat percakapan kami yang selalu seputar perguruan tinggi dan pelajaran saja. Jadi Kak Kihyun ini pernah mengunjungi kelasku untuk mempromosikan universitasnya—tahu ‘kan bagaimana seringnya sosialisasi semacam itu dilakukan di kelas senior SMA?—lalu karena aku juga berkeinginan masuk ke perguruan tinggi yang sama, dia memberiku kontak yang bisa kuhubungi sewaktu-waktu. Singkat bercerita, aku sudah tahu kalau aku akan naksir padanya di pertemuan pertama kami. Di akhir, instingku terbukti benar.

Kak, sedang sibuk?

Pesannya berhasil kukirim. Elkie yang duduk di sebelahku mencondongkan tubuhnya lebih dekat, lalu berteriak dengan suara stereonya ketika muncul tulisan read. Aku menoyor kepalanya menjauh, separuh karena dia nyaris merusak gendang telingaku, sisanya karena aku juga takut melihat jawaban yang bakal kuterima. Kalau dia bilang tidak sibuk, aku pasti diharuskan meneleponnya, dan meskipun aku bakal gembira sekali memiliki alasan untuk mengobrol dengannya, tetap saja aku khawatir. Bagaimana kalau suaraku hilang dan dia hanya mendengar detak jantungku saja? Di sisi lain, kalau Kak Kihyun bilang sibuk, harapanku pasti munah seluruhnya, berikut harga diriku. Maksudku, kalau dia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya ketimbang mengobrol denganku barang lima menit, itu artinya dia tidak memiliki perasaan apa pun padaku, ‘kan?

Nggak. Ada apa?

“Yeay!” Elkie berteriak lagi, bahkan sebelum aku berhasil membaca keseluruhan pesan yang tidak panjang itu. “Telepon, telepon!”

Teman-teman yang lain ikut bersorak, sementara aku kelabakan mengambil dan menghela napas. Oke, tugasku hanya menelepon saja. Aku tidak diharuskan untuk menyatakan perasaan atau apa, aku hanya perlu mengumpulkan beberapa topik seputar perkuliahan (lagi) supaya tidak kehabisan pembicaraan di tengah-tengah panggilan. Mudah.

Aku menyentuh tombol hijau di bagian atas jendela obrolan, lalu menoleh ke arah teman-temanku lagi dan bergumam, “Aku benci kalian semua.”

Teleponnya diangkat di dering kedua—pertanda bagus, karena kalau teleponmu tidak juga dijawab setelah deringan keempat, itu artinya penerima panggilan itu tidak tertarik kepadamu. Tapi tidak bagus juga kalau teleponmu diangkat di deringan pertama. Terlalu bersemangat kesannya. Aku buru-buru menyingkirkan semua pikiran ini dan memfokuskan diri.

Halo,” suara Kak Kihyun terdengar ke seisi ruangan—Yujin yang memencet tombol loud-speaker-nya, anak kurang ajar itu.

“Uh, halo. Kakak benar-benar tidak sedang sibuk, ‘kan? Aku nggak mengganggu, ‘kan?” aku menyembur, sementara Kak Seunghee menendang kakiku, berbisik “jangan terdengar terlalu panik!” tanpa suara. Aku berdeham.

Kak Kihyun di seberang tertawa—ya Tuhan, bahkan suara tawanya bikin aku merinding. “Nggak, kok, ‘kan tadi kamu juga sudah tanya.” Katanya. “Ada apa?”

“Eh… itu…” aku buru-buru mendongak, melihat temanku satu per satu, sementara isi kepalaku tiba-tiba kosong melompong. Dengan panik aku memberi tanda kalau aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada mereka semua. “Eh…”

“Kamu besok ada acara?” Kak Kihyun tiba-tiba bertanya, mengagetkan seisi ruangan. Bahkan Sorn yang dari tadi mengerutkan kening tiba-tiba melotot, menepuk-nepukkan kedua tangan tanpa suara.

“Hah… acara…” aku dengan tolol terbata.

“Iya, acara. Besok ‘kan hari Minggu. Sekolah libur, ‘kan? Kamu tidak ada les tambahan atau kursus, ‘kan?”

“Tidak, sih,” aku menggaruk kening, sedikit-banyak merasa terselamatkan. “Memang ada apa ya, Kak? Kalau boleh tahu?”

Kali ini ganti Elkie yang menyenggol pahaku sambil menggeleng-geleng.

“Nggak penting-penting amat, sih,” jawab Kak Kihyun—anehnya kedengaran risau. “Besok ‘kan ada bazar dan pentas seni di kampus, kupikir karena kamu tertarik masuk ke sini, ada baiknya mampir sebentar dan melihat-lihat, ‘kan? Tapi aku paham kok kalau kamu tidak tertarik—”

“Enggak, enggak! Siapa yang bilang tidak tertarik?” ups, aku keceplosan. “Maksudnya…”

Kak Kihyun memotong apa pun itu yang rencananya akan kukatakan dengan tawa kecil. “Bagus, deh, kalau begitu.” Ucapnya ringan. “Jam sembilan pagi, mau dijemput atau kita ketemuan saja?”

Aku bisa melihat Elkie, Sorn, dan Yujin berseru-seru “jemput!” dengan lirih. Tapi untuk memberi kesan gadis dewasa yang mandiri, aku justru menyahut, “Ketemuan saja, Kak. Di mana?”

Kak Kihyun menyebutkan lokasi dan aku menyetujui. Lalu dia bertanya, “Omong-omong, apa yang tadi mau kamu bicarakan?”

Aku memberi gelakan gelisah, tergoda untuk menjawab, “Aku bahkan nggak tahu mau bicara apa!” tapi tentu saja tidak kulakukan. Jadi alih-alih, kusampaikan terima kasih atas ajakannya dan selamat malam. Begitulah, panggilan diakhiri.

Dadaku masih berdebar bahkan setelah ponselnya kuletakkan. Aku tidak percaya ini. Pergi ke pentas seni besok! Dengan Kak Kihyun! Di musim panas yang cerah! Kami mungkin bakal mengunjungi kedai es krim setelahnya!

Sayup-sayup, kudengar protes dari Yujin, “Tidak adil! Dare buat Yeeun menghasilkan kencan! Dare buatku menghasilkan apaan? Cuman rasa malu dan penghinaan! Aku nggak mau main ini lagi bersama kalian!” yang disusul dengan deringan telepon genggamnya. Hening sejenak, lalu dilanjutkan dengan: “Kurang ajar! Wonwoo sudah mendengar voice note-nya dan dia tanya apakah aku sudah gila!”

fin.

Finished: 13:40 | July 26, 2016.

Panjang juga yaelah kenapa sih sekarang kalo nulis selalu saja nembus 1000words???  dan maaf btw, moodboard-nya tidak nyambung dengan ceritanya tapi biarkan saja, ya.

9 thoughts on “Do or Die

  1. YUJIN IS TYPICALLY MEEE. kalo ada yang kena dare terus dia minta ganti malah aku yang riweuh bikos hello aku juga kena??? WKWKWK

    emang beda kualitasnya yha kalo cewek ngumpul bareng. di ruangan yang tertutup. ada waktu banyak. WADUH KELUAR SEMUA GOSIPNYA (dan evilnya)

    TERUS KENAPA ITU ASTAGA YEEUN KIHYUN AJAIB SKL??? tapi malah jadi chu, yeeunnya naksir tapi omongannya cumA seputar kuliah+pendidikan aja jebal:”))

    keep writing mb meyyy!

    Like

  2. Kok malah aku yang deg2an ya baca ini. Waaa enak banget dare malah untungnya banyak. Pas dare yang bagian awal nyesek juga, ckck. Semangat nulis memey😊

    Like

  3. MEYDA. SEKALI LAGI KAMU BIKIN AKU KETAWA-KETAWA NGGAK JELAS!!! AAA, AKU SEBAL SEBAL KAMU BIKIN AKU JADI ORANG GA JELAS!
    TAPI AKU SENANG SENANG AKU BISA KETAWA BAHAGIAAHH wkwk😀
    Seru sekali si Yeeun, main dare bukannya malu malah BAHAGIA! Oemjong, andai itu terjadi di kehidupan nyataku~ tapi aku inginnya diajak taarufan wqwq /ketawa setan/

    Like

    1. EIIY JANGAN SEBEL SAL GA BAIK BUAT KESEHATAN (???) yesh tidak adil sekali, nasib yeeun terlalu baik!!! ;_; wow taarufan kamu alim sekali sal ;__;
      btw makasih banyak ya udah mampir dan baca ini hehet :>

      Like

      1. Haha, gara-gara kamu nih aku jadi kebanyakan ketawa jadi sekali-kali sebel kan jadinya bagus buat kesehatan (?) mungkin itu perasaan dari dalam hatimu kali ya mey kamu pingin jadi kaya si yeeun? haha, tertebak sudah :v haha alim apaan, doakan sajalah ya ;_;
        sipsip mey, kamu jangan bosen-bosen aku rusuhin yaa

        Like

  4. HAHAHAHAHA ENAK BANGET YHA TADINYA KENA DARE MALAH DIAJAK JALAN BRUH AWAWAW. Yha bilangnya sih ada acara kampus tapi kan tapi kan entar pulangnya bisa mampir ke mana dulu gitu (pfft bayangan fika astaga) wkwk. Koplak banget wonwoo bales: apa kau gila. Sumpah aku ngakak bagian itu, terus yang pada riweuh padahal mah yeeun yang harusnya riweuh gegara diajak ama kihyun wakaka. Typically a bunch of girls kalo sleepover yha :”) kirain di awal tuh kenapa meeey eh taunya yeeun kena dare toh hahahaha xD suka ih sukaaaa. Keep writing meydaa 😆

    Like

    1. bener banget kak fik, lagian pasti di pentas kayak gitu2 kan berduaan huhu aku juga ingin (loh loh). yess emang cewek-cewek kalo udah kumpul tuh SERIBUT itu ;__;
      makasih kak fika sudah mampir dan baca ini ^____^ maaf balesnya telat huhu

      Like

  5. Oke…… oke….. ini….. /jantungan/
    WKWKWK MEY IH GELI GELI SENENG GITU BACANYA(?)
    Dan selipan wonwoo-yujinnya wow *salah fokus*
    Btw mau donk diajakin ketemu sama doi kayak yeeun gitu berasa serseran he he he
    Untung bgt yeeun pas awkward gitu diselip kihyun duluan jadi gajadi awkwardnya wqwq
    TQ UDAH BIKIN FICT MEREKA!!!

    Like

    1. GAK GELI-GELI JIJIK KAN RA SOALNYA AKU SUKA GT KALO BACA FIKSIKU SENDIRI (???????????)
      ya edan kalo tidak disela kihyun pasti isi teleponnya cuman “anu..anu.. eh” wkwk xD
      AIH KAMU JUGA MAKASIH DAH BIKIN YA!!! AKU JADI TERINGAT MEREKA GARA2 FIKSI KAMU TAU GA!!😄

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s