Juxtaposed


disney, ariel, and art image

Like so many other things, it all began with a dance.

by Authumnder.

+++

“Dia tidak mencintaiku.”

Eliora kira, setelah ia membeberkan informasi pribadi ini, kemarahan ayahnya akan surut, tergantikan oleh perasaan kasihan. Seberapa pun bencinya Eliora dikasihani, menurutnya itu masih lebih baik ketimbang dipaksa untuk tetap berada di kota dan meminta pertanggungjawaban. Namun perkiraannya salah total ketika ayahnya justru membalas,

“Kenapa tidak? Melihat kondisimu sekarang, itu artinya kalian sudah menghabiskan satu malam bersama. Bagaimana bisa dia tidak mencintaimu?”

Ayahnya benar, dan Eliora benci sekali kalau hal itu terjadi. Hal itulah yang membuat dadanya makin sesak—ya, bagaimana mungkin laki-laki itu tidak mencintainya setelah ini semua terjadi?

It was just a dance.” Eliora berkata dengan suara parau. “Kami tidak menduga… kalau ini bakal terjadi. Yang dia inginkan adalah menari bersamaku. Bukan merajut pernikahan.” Bahkan mungkin laki-laki itu tidak menginginkan asmara denganku.

Ruang tengah tempat mereka berada sekarang berubah senyap, bahkan para pelayan yang biasanya hilir-mudik tidak kelihatan sama sekali, Eliora berpikir dengan sedih. Mereka pasti tahu, ya, ‘kan? Mereka pasti tahu apa yang terjadi pada nonanya. Mereka tahu dan merasa malu untuk menunjukkan batang hidung di hadapan Eliora.

Dasar kau anak tolol, Eliora memaki dirinya sendiri.

“Kita tetap harus memintanya menikahimu, Nak,” suara bas ayahnya kembali. “Kita coba itu, dan kalau dia menolak…”

Eliora mendahului, “Aku akan dibuang ke desa.”

“Bukan dibuang, hanya dilarikan untuk sementara. Kau tahu, ‘kan, kalau kau bisa kembali ke sini kapan pun? Kau juga tahu, ‘kan, kalau ayah dan ibumu bukan orang kolot yang akan meninggalkanmu sendirian?”

Kepalanya mengangguk perlahan. Ibunya mungkin menolak menemuinya saat ini—beliau beralasan sedang sakit kepala—tapi bahkan Eliora tahu kalau wanita itu sedang menguatkan diri. Ia juga tahu kalau ibunya akan turun nanti saat makan malam dihidangkan, seluruh kesedihan lenyap digantikan senyum cemerlang khas miliknya. Pada saat itu, Eliora sudah kembali diterima.

Ayah maju selangkah untuk menepuk punggungnya lembut. “Jangan bersedih begitu, Nak. Semuanya akan baik-baik saja. Dan, kalaupun semuanya tidak begitu, kau tetap jadi bagian keluarga ini. Tidak akan ada yang berubah. Malah,” pria tua itu memandang sekilas ke perut Eliora. “Anggota keluarga kita akan bertambah!”

+

Namun jauh di dalam lubuk hatinya sana, Eliora juga tahu kalau segalanya tidak baik-baik saja. Ia sudah mengacaukan nama bersih keluarganya yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, ia sudah mengotori gelar kebangsawanannya dengan kejadian tolol yang seharusnya tidak dilakukan oleh wanita terhormat, berikut lelaki terhormat.

Tetapi Reynard Griffin memang bukan lelaki terhormat sejak awal.

Lelaki itu liar, sukar dikendalikan, dan seorang bajingan. Mungkin Eliora sudah mengetahui semua ini detik ketika ia melangkah di lantai dansa dengan lengan Reynard melingkar di pinggangnya, tahu kalau satu putaran dansa tidak akan berakhir dengan satu putaran dansa, mengerti kalau pendiriannya untuk tidak terlibat masalah sudah dikalahkan oleh senyuman menggoda Reynard, pula bisikan-bisikan berkaitan masa depan yang dilontarkan laki-laki itu tanpa berpikir.

Ha. Laki-laki berengsek itu pasti juga tidak menduga kalau kereta kuda Britton akan mampir ke mansionnya sore ini, meminta pertanggungjawaban.

Tiba-tiba Eliora merasa amat malu, bersalah, dan benci pada dirinya sendiri.

+

Denting suara sendok beradu dengan piring keramik di meja makan tidak kedengaran sekeras biasanya, teredam oleh ucapan-ucapan penuh semangat (dan mungkin amarah) yang keluar dari mulut ayahnya.

“Anak itu sungguh keras kepala. Tidak jauh berbeda dengan Ellie kita.” Kata ayahnya, sementara Eliora semakin menundukkan kepala. “Dia bahkan berani menatap mataku—tepat di mataku—seakan-akan derajatnya sama denganku. Well, ya, mungkin kekayaannya memang setara dengan milik kita, tapi tetap saja.”

Ibunya yang duduk di samping Eliora mengangguk-angguk, senyum simpul menghiasi wajahnya yang simetris dan merona. Sesekali ia melempar pandangan ke arah putrinya, seperti meyakinkan, seperti menenangkan.

“Jadi, Ellie,” ayahnya membuka suara lagi setelah menuntaskan segelas air mineral. “Kita tidak punya pilihan lain. Griffin memintaku mengirimmu—tentu saja tidak sendirian, kau akan didampingi oleh seorang pelayan—ke hadapannya sendiri. Ingin melihatmu, begitu katanya.”

Eliora berusaha keras menyembunyikannya, tapi pipi memerahnya tetap kelihatan visibel di ruangan yang cerah itu. Menemui Reynard? ia berpikir sembari menggerakkan garpu, apa itu hal yang memungkinkan?

+

Ternyata Eliora tidak perlu melakukannya—berkendara dalam kereta tertutup menuju kediaman Griffin, maksudnya—karena siang ini kastel Britton kedatangan tamu; Reynard Griffin sendiri.

Eliora sudah menghabiskan lima menit mondar-mandir di kamar pribadinya dengan panik, sementara Trish—pelayan yang bertugas mendandaninya—juga sibuk mencari sepotong pakaian yang layak dikenakan di antara ratusan potong setelan yang lain.

“Aku menemukannya!” Trish berseru dari balik lemari yang pintunya terbuka. Ia keluar dengan sehelai gaun hijau mint yang belum pernah Eliora lihat. “Baru datang seminggu yang lalu dari toko Madame Lairé. Kemarilah.”

Eliora menurut, ia meloloskan jubahnya dari tubuh dan memasukkan lengannya ke gaun yang dipilih Trish, juga duduk tanpa bergerak di depan cermin sementara pelayannya itu memoles bedak tipis dan perona.

“Percuma berdandan seperti ini,” Eliora membuka suara. “Toh aku hanya akan keluar untuk ditolak.”

Trish tidak mengindahkan ucapan penghilang semangat itu dan menyahut, “Oh, ya? Tadi aku berpapasan dengan Tuan Griffin di ruang tamu, dia tidak kelihatan seperti akan menolak seseorang.”

“Ya, dan dia juga tidak kelihatan seperti akan mencintaiku.

“Nona, aku sungguh tidak mengerti mengapa kau senewen begini.” Trish tiba-tiba berkata, membiarkan pemulasnya mengambang di udara. “Kau sungguh cantik dan memesona! Kau juga berkomunikasi dengan baik! Kau lucu, kau pintar! Kalaupun Griffin berakhir menolakmu, dia yang rugi, bukan kau. Nah, biar kugulung sedikit rambutmu.”

+

“Kau tidak harus menikahiku.”

Eliora menyembur begitu memosisikan dirinya di sofa beledu di ruang tengah. Trish, yang berdiri di ujung ruangan, langsung melotot begitu mendengar pernyataannya. Tapi Eliora tidak peduli, ia tidak ingin terlibat dalam sebuah pernikahan yang hanya dilandasi oleh belas kasihan.

Reynald Griffin, yang semula duduk bersandar dalam posisi santai, segera menegakkan punggung. “Sambutan yang sangat meriah,” katanya setelah menghabiskan beberapa saat hanya dengan memandangi Eliora. “Bukan berarti aku bakal menurutinya, sih.”

“Aku bersungguh-sungguh!”

Reynald hanya membalasnya dengan seringai. “Aku juga serius, Eliora-ku sayang.”

Aku bukan Eliora-mu yang tersayang, Eliora ingin menyergah, tapi tertahan karena ada satu hal yang harus ditanyakan terlebih dahulu. “Jadi kau akan menikahiku?” ujarnya, berusaha kedengaran datar meski jantungnya kini melonjak-lonjak dalam dada.

Lawan bicaranya mengangguk.

“Mengapa?”

Trish di ujung ruangan kembali mengernyitkan dahi.

Reynald memperbaiki posisi duduk, lalu membalas tatapan berani Eliora dengan, “Mengapa tidak?” beruntung ia berhasil menangkap ekspresi ingin menangis lawan bicaranya, sehingga ia menambahkan. “Elle, sama sepertimu, aku tidak menganggap pernikahan sebagai sebuah candaan. Aku tahu apa yang kulakukan. Kau bertanya mengapa aku mau menikahimu? Karena itu kau. Dengar, Eliora, aku tahu ini mungkin tidak kedengaran meyakinkan, tapi percaya atau tidak, aku mengenalmu.

“Aku tahu kau ingin bertanya, bagaimana bisa? Kita tidak pernah mengobrol sebelumnya. Ya, itu benar, tapi aku harus mengingatkanmu kalau ibuku adalah penggemar beratmu. Setiap hari dia mencekokiku dengan berita tentangmu, Lady Eliora akan menghadiri pesta ini, kau sebaiknya pergi juga, Lady Eliora mengikuti acara amal di situ, kau sebaiknya ikut juga, Lady Eliora ini, Lady Eliora itu. Jadi kemarin, saat melhatmu berdiri di pinggir lantai dansa sendirian, aku menyerah dan memutuskan, hei, kenapa tidak mendekatinya saja?

“Kau berbicara dengan sangat lugas dan santun, kau benar-benar tertawa saat sesuatu yang lucu terjadi. Kau tidak menahan dirimu sendiri. Harus kukatakan kalau kau membuatku terkesan. Sungguh. “

Butuh semenit penuh bagi Eliora Britton untuk meregistrasi semuanya. Namun sesudahnya pun ia hanya bisa diam dan tertegun.

Reynald menggunakan kesempatan itu untuk mengatakan tujuannya datang, “Jadi, akan jadi apa jawabanmu saat aku menawarimu pernikahan, denganku?”

Hanya satu jawaban yang memenuhi kepala Eliora, jadi ketimbang menghabiskan waktu mencari yang lain, ia lebih memilih untuk menyahut, “Mengapa tidak?”

fin.

finished: 13:59 | August 04, 2016.

i also dont understand why my historical romances’ character is always a bad (???) boy with a sweet, obedient girl? why am i so uncreative? anyway im glad i write something again today, its been a while since i wrote something whoop whoop! oh and college will be starting in a few days and iM FREAKING OUT. bless @ me. i got the prompt from somewhere but i forgot, sorry.

4 thoughts on “Juxtaposed

  1. KAK I’M A SUCKER FOR HISTORICAL ROMANCE AND THOSE BAD BOY-GOOD GIRL THINGY PLS SEND HELP–
    First, aku suka namanya. Eliora dan Reynard. I’m not a big fan of bad boy character tapi karakter Reynard di sini adorable banget dan susah dijelaskan. Like, dia brengsek, tapi juga gentleman, tapi tetep nyebelin xD Cara dia jelasin ini-itu ke Ellie tuh baper-able sangat awawaw❤ Terus di sini keluarga Britton juga open banget yha, biasanya kalo cerita-cerita historikal yang ada hubungannya dengan family/romance gitu kan identik dengan keluarga yang konservatif, terutama buat keluarga aristokrat. Aku ga bayangin seseneng apa ibunya Reynard waktu tau kalo cewek yang selama ini dia idolain bakal jadi menantunya.
    Keep writing ya Kak Meyda I really enjoy your historical romance writings loh!

    Like

  2. Meyda oh my orific mu ini bikin aku sebal sekaligus gemas wkwk
    Bagus banget, Mey, kamu selalu bisa bikin aku suka bad boy😀 akhir-akhir ini aku malah tertarik sama bad boy kok wkwk
    BTW ENDINGNYA MANIS SEKALI OH AKU MELTED DIBUATNYA~~

    Like

  3. Meyda! Wow kamu udah mulai menjamah orific ♥♥

    Aku suka namanya: Eliora. Ellie biasanya buat Eleanor, Elizabeth, etc, terus ada Eliora, nice.

    Pacenya bagus, dikit-dikit tapi cukup. Terus Reynard, aku masih gak tau harus merasa apa HAHAHA. Apakah dia cowok baik berlapis berengsek, apa emang aslinya berengsek (dan cuman boong bagian akhir (maaf, kusuka ide konspirasi)) LOLOL.

    Anyway, nice fic!🙂

    Like

  4. meyda omona jinjja jebal chorom

    kamu mulai demen bikin orific yha wkwk. dan namanya rada berat2??? aku bingung ngapalinnya ((abaikan)) ((komentar nda mutu)) TAPI TETEP BAGUS INIMAH???

    kalo aku garap ff bertema gini pasti jatuhnya … mengerikan. brb pensiun dari wordpress. tapi kamu jago sekali ngolahnya. BTW ORTUNYA ELLIE KOK SWEET. sama anu, gryffin juga!!!! yang bagian lady ini lady itu setengah bikin lawaque setengah bikin kedip2

    keep writing mb meyyy

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s