Sweet & Sour


by Authumnder

CLC’s Elkie & NCT’s Kun | Fluff, Comedy

+++

“Kun? Aku mau bicara.”

Aku berani bersumpah kalau aku tidak marah, sama sekali tidak. Aku juga tidak punya keinginan untuk menampar cowok di hadapanku ini, tidak minat untuk memberi cacian apalagi makian. Aku hanya butuh penjelasan, sudah.

Well, tadinya sih begitu, tapi sekarang setelah sasaran utama meledaknya kepalaku berbalik, menunjukkan senyuman-gusi-lebarnya, tiba-tiba saja aku kepingin menyodok hidungnya. Atau menjitak dahinya. Atau mencubit pipi gembulnya.

“Ya, Elkie, ada masalah?” tanya Kun.

Kutangguhkan lagi niat konfrontasi-tanpa-melibatkan-fisik yang ada dalam benakku, memberi seringaian yang lebih mirip ringisan. “Aku dengar dari yang lain soal ‘pendapatmu’ soal cara berpakaianku.” Kataku. “Boleh kudengar mereka dengan telingaku sendiri?”

Fine, aku mungkin tidak marah, tapi aku jelas-jelas tersinggung. Aku kesal, sebal, dan sakit hati. Punya hak apa cowok ini, menyebut selera fashion-ku sebagai ‘walking disaster’–bencana berjalan? Dia pikir dia sekeren apa boleh mengataiku begitu dan melenggang bebas setelahnya? Sori, ya, tapi dia berurusan dengan “bencana” yang salah.

Kun membuka mulutnya, dan kukira dia akan meralat ucapannya, atau paling tidak meminta maaf, tapi yang keluar dari tenggorokannya adalah, “Um, pendapat yang mana, ya?”

Aku akan membunuhnya. Aku akan memotong-motong bagian tubuhnya dan menyembunyikan mereka di hutan belakang kamp musim panas kami. Hewan liar akan memakan potongan itu dan polisi tidak akan punya cukup bukti untuk menahanku di balik penjara. Sangat menggoda, andai membunuh bukan tindakan kriminal, karena cowok ini jelas-jelas berhak mendapatkannya.

“Mau kuingatkan?” tawarku, berusaha keras mempertahankan topeng manis. “Kau bilang pada yang lain kalau pakaian-pakaianku superjelek dan norak, kalau aku tidak bisa memadu-padankan mereka dengan baik, kalau cara berdandanku sangat aneh dan tidak wajar. Sudah lupa, ya? Kau baru mengatakan itu kemarin, lho.”

Kalau Kun adalah manusia normal yang masih punya hati, dia akan, paling tidak, merasa bersalah. Tapi aku telah belajar dari observasi-observasi yang lalu kalau cowok ini tidaklah senormal kelihatannya, dan dugaanku terbukti benar karena yang kudapatkan darinya setelah penjelasan panjang (dan bikin sakit hati) barusan adalah,

“Ooh, yang itu.”

Seakan-akan dia sudah memberi seribu komentar jelek tentangku secara diam-diam sebelum ini!

Well, Elkie, kau harus belajar menerima kritikan.” Kun berkata. “By the way, aku tidak bilang kalau pakaian-pakaianmu jelek atau norak, aku bilang kalau seleramulah yang jelek dan norak.”

Butuh beberapa detik bagiku untuk meregistrasi ucapannya, dan saat aku berhasil, satu-satunya yang ada dalam pikiranku adalah Ooh! Betapa aku benci padanya! Sekarang Kun tidak hanya membuatku sangat jengkel dan tersinggung, dia juga membuatku sangat sangat sangat malu. Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, apa yang harus kukatakan untuk menyerangnya balik (karena, yah, bocah sialan ini punya selera berpakaian yang oke), jadi, mengikuti insting, aku menghindar dan berlari pergi.

Aku tidak menangis, kok. Sama sekali tidak. Mataku hanya berkeringat setelah disinari matahari selama berjam-jam. Itu saja. Baiklah, mungkin aku memang menangis. Sangat memalukan. Jangan sampai Kun kurang ajar itu melihat rupa berlinang air mataku, karena aku berani taruhan kalau dia akan mengata-ngataiku lagi. Mungkin cowok itu akan mengatakan hal seperti, “Oi, man, beruntung sekali mata kalian, tidak perlu menyaksikan sesuatu sejelek itu! Kalian pasti sudah muntah-muntah!”

Bagusnya, gedung kabin anak perempuan sudah kelihatan. Lebih bagus lagi karena gedung tersebut sepi melompong–tentu saja, ini toh sudah pukul sebelas lebih–jadi aku bisa menyelinap ke kamar kecil tanpa harus ditanyai macam-macam terlebih dahulu.

“Elkie, Kun titip sesuatu untukmu.”

Harusnya aku tidak lagi penasaran soal hal-hal yang menyangkutpautkan Kun setelah tragedi kemarin lalu itu. Harusnya aku acuh saja terhadap kalimat teman sekamarku barusan–atau kalau ingin terlihat lebih keren lagi, aku bisa saja memintanya membuang saja sampah apa pun yang diberikan Kun. Tapi karena aku lemah dan tolol dan tidak bisa belajar dari pengalaman, aku tidak melakukan semua itu, alih-alih menoleh ke arah temanku dan menyodorkan tangan.

Note yang dilipat sangat kecil. Aku pasti akan mengira benda itu semacam surat cinta, andai peristiwa tragis yang bersejarah itu tidak terjadi. Bukannya ucapan tajam cowok itu memengaruhiku, sih, toh aku masih berpikir kalau mix-match-ku keren dan luar biasa. Dia saja yang matanya berkerak.

“Isinya apaan? Permintaan maaf, ya?” temanku yang lain menjulurkan kepala mendekat.

“Bacakan, bacakan!”

Aku menggeleng. Mengenal Kun, dia pasti menuliskan sesuatu yang jelek dan bikin nyeri di lembar notes itu. Permintaan maaf? Beurgh. Aku sih inginnya menyimpan surat ini kubaca sendiri, siapa tahu kalau Kun memilih surat ini untuk menambah deretan cacian plus makin untukku, tapi teman-temanku sudah keburu bangkit dari kasur masing-masing dan mengerubungiku. Huh, bicara personal space.

“Dear Elkie, aku akan memberimu sekotak eskrim jumbo tiga rasa, gratis, kalau kau menunjukkan diri di lapangan tenis nanti malam. Pukul 9. PS. jangan ajak teman-teman cewekmu. PPs. Aku bisa menjelaskan perihal omonganku kemarin.”

Sontak teman-temanku mengeluh, menjauhkan kepala mereka dari lingkaran kecil yang berpusat di note kecil di tanganku.

“Pelit!”

“Dia bahkan tidak meminta maaf. Elkie, kau yakin mau pergi menemuinya?”

“Ei, Elkie harus pergi! Eskrim adalah eskrim! Peduli siapa yang memberi!”

Aku berdecak, “Dia pasti berbohong.” Ujarku. “Dari mana pula dia bisa mendapatkan eskrim di sini? Lying bastard.”

Kadang-kadang aku penasaran juga dengan jalan pikir otakku, mengingat tadi siang aku begitu yakin kalau aku tidak akan pernah repot-repot meninggalkan kabinku pukul sembilan malam untuk menemui Kun, namun di sinilah aku sekarang, mendaki jalan setapak menuju lapangan tenis pukul setengah sepuluh. Aku memang gila.

Tapi omong-omong, kurasa Kun lebih gila. Dia masih menungguku di lapangan tenis, bahkan ketika aku sengaja datang terlambat! Bayangkan berapa ratus gigitan nyamuk yang sudah dia dapatkan! Dia berhak mendapatkannya, sih.

“Es krim memang sulit ditolak, ya,” sapanya saat dia menyadari keberadaanku. “Nih.”

Aku menerima bungkusan itu, menilik isinya (wow! Memang es krim kotak ukuran jumbo! Yum!) lalu membalas ucapannya, “Itu karena aku masih punya hati nurani, tidak seperti salah satu dari kita.”

Kun tidak tampak terkejut dengan seranganku. Dia hanya mengedikkan bahu.

“Kulihat kau bahkan tidak berniat untuk meminta maaf,” aku berkomentar dengan ekspresi datar. “Bukannya aku akan memaafkanmu, sih. Bukan berarti aku bakal menolak es krimnya. Bye.”

“Wow, Elkie,” panggilnya tepat dua detik setelah aku mulai melangkah. “Hebat juga kau soal menyimpan dendam. Omong-omong, aku tidak memintamu ke sini untuk meminta maaf, aku hanya ingin menjelaskan, you see. It’s not like I lied about what I said to you yesterday, anyway.”

Aku refleks berbalik lagi dengan mata melotot. “Apa kau bilang?”

Kun menyengir, “Soal selera berpakaianmu yang buruk, itu fakta, tahu. Siapa pula yang mengira celana garis pantas dipadukan dengan atasan kotak-kotak? Cuma kau.”

“Itu karena aku kehabisan pakaian bersih!” aku membela diri, tiba-tiba merasa malu lagi. Hal itu memang benar, sih, tapi siapa yang menyangka kalau Kun bakal memperhatikan? Aku toh mengenakan mereka di pagi hari saat kami semua mengantre sarapan, bukannya siang hari saat matahari bersinar terik!

“Lihat, ‘kan, kau sendiri setuju denganku soal itu! Terus itu, kenapa kau punya rok tutu? Maksudku, tutu? Lebih parah lagi, kau memakainya saat bermain basket!”

Oke… baiklah… kalau yang ini aku tidak punya jawaban. Kupikir tutu milikku itu imut! Lagipula saat itu aku lupa kalau kabinku akan mengikuti tambahan basket sore harinya! Oh ya, terserahlah. “Fine, fine, kau menang. Sudah, ya? Aku mau pulang. Es krimnya mencair, nih!” kataku, menyerah.

Seringaian Kun kembali, dia kelihatan sangat puas sampai aku tergoda untuk menonjoknya. “Jadi kau tidak marah lagi, ‘kan? Kau tidak akan mendiamkanku lagi, ‘kan?”

“Sepertinya tidak.” Aku menggeleng, lalu tiba-tiba merasa penasaran. “Tapi, Kun, tunggu sebentar, bagaimana mungkin kau masih ingat soal pakaian-pakaian jelek yang kupakai? Like, aku memakai tutu itu tiga minggu yang lalu! Juga setelan garis-kotak itu… mereka kupakai sebulan yang lalu? Kita ‘kan belum saling kenal waktu itu!”

Kegembiraan apa pun itu di wajah Kun luntur, sekarang cowok itu gelagapan.

“Hm?”

“Itu–” dia berusaha menjelaskan, kali ini sebelah tangannya terangkat untuk menggaruk dahi. “Yah, well, anggap saja kalau aku mengamatimu dengan sangat baik! Sudah, ya!” habis itu dia langsung melesat pergi.

Huh?

Fin.

Finished: 23:12 | August 15. 2016.

Kembali menulis lagi! Senangnya!

 

One thought on “Sweet & Sour

  1. Halo, Kak Meyda! Long time no see! Btw aku sudah baca ini tadi pagi tapi waktu mau posting comment malah error jadi kuposting ulang sekarang ya.
    Aku suka karakter Kun maupun Elkie di sini >< Kun tuh gemas-gemas minta ditampol gimana ya, meanwhile Elkie juga plin-plan banget katanya sebel tapi ngeladenin Kun terus xD Endingnya lucuuu finally Elkie has something savage to say, hahaha…
    Anw paragraf favoritku tak lain dan tak bukan adalah: "Aku akan membunuhnya. Aku akan memotong-motong bagian tubuhnya dan menyembunyikan mereka di hutan belakang kamp musim panas kami. Hewan liar akan memakan potongan itu dan polisi tidak akan punya cukup bukti untuk menahanku di balik penjara. Sangat menggoda, andai membunuh bukan tindakan kriminal, karena cowok ini jelas-jelas berhak mendapatkannya."
    Wes lah pokoke iki mantep tenan, keep writing dan ditunggu karya selanjutnya, Kak ^^

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s